CADAR, “BUDAYA ARAB KAH?”

Disini kami akan sampaikan hukum cadar secara ringkas. Cadar bukanlah pakaian adat bangsa Arab sebagaimana yang telah dituduhkan oleh sebagian orang awam; dan juga bukan pakaian istri para teroris. Akan tetapi, cadar adalah p…akaian yang berlandaskan syariat. Ada dua pendapat tentang hukum memakai cadar yang tentunya berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah menurut pemahaman Salaful-Ummah. Pendapat pertama mengatakan wajib, diantaranya adalah pendapat Imam Syafi’i dan Imam Ahmad.9 Sedangkan pendapat kedua berpendapat bahwa meskipun cadar itu disyari’atkan namun tidak sampai kepada derajat wajib, yang berpendapat seperti ini diantaranya Imam Abu Hanifah dan Imam Malik.10 Yang jelas masing-masing pendapat memiliki dalil yang kuat dan ada ulama yang menyatakannya.

Adapun yang menjadi permasalahan sekarang ini adalah banyak diantara wanita yang bercadar kurang bisa menempatkan diri di tengah masyarakat bahkan terkesan menutup diri, akhirnya menjadi sorotan dan membuat masyarakat apriori. Sesungguhnya pakaian itu bukanlah suatu masalah di tengah-tengah masyarakat. Mungkin ada, tetapi itupun pada awal-awalnya saja. Asal yang memakai pakaian tersebut bisa menempatkan diri di tengah masyarakat -yang tentunya sebatas bermasyarakat yang jelas-jelas tidak melanggar syariat.

9 ^ Adapun ulama abad ini seperti Syaikh Bin Baz dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin -rahimahumallah-. Baca Risalatul-Hijab karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin.
10 ^ Adapun ulama abad ini seperti Syaikh Nashiruddin al-Albani -rahimahullah-. Baca kitab beliau “Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah.”

Dari blog salah seorang sahabat..
syukron, semoga menjadi amal solih,
^^ SEMANGAT

4 Tanggapan to “CADAR, “BUDAYA ARAB KAH?””

  1. falahdarul Says:

    smith, mana dalil-dalilnya saya mau lihat.

  2. pelajar Says:

    Kalau memang cadar dan sarung tangan itu disyariatkan untuk menutup aurat perempuan, kenapa justru waktu pelaksanaan ibadah haji justru diharamkan?? Kalau alasannya untuk menghindari fitnah bukankah ibadah haji di mana pertemuan laki-laki dan perempuan semakin intens??

  3. roksi Says:

    untuk @Pelajar:
    Alasannya adalah di dalam ibadah haji, manusia benar2 beribadah kepada Allah, mengerahkan seluruh pikirannya dan amalannya hanya untuk Allah. Jadi tidaklah seseorang itu pada saat itu kceuali khusyuk beribadah kepada Allah saja.
    Maka barangsiapa berbuat yang lain-lain seperti termaktub dalam larangan2 haji atau juga memalingkannya kepada syahwat maka ia telah rusak karenanya.
    Di sini Allah menguji, siapakah yang terbaik di antara manusia di dalam beribadah kepadanya.
    Tidaklah kemantapan keimanan dan keikhlasan itu didapat melainkan dengan ujian. Bukankah seseorang bisa naik kelas setelah ia diuji? Allah berfirman, artinya:
    “Yang menciptakan kematian dan kehidupan, supaya Dia menguji kamu tentang siapa saja di antara kamu yang terbaik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (Q.s. Al-Mulk [67]:2)
    “Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa–dan ‘Arsy-Nya (sebelum itu) berada di atas air–agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang paling baik amalnya.” (Q.s. Hud [11]:7)

  4. roksi Says:

    Lagipula para ulama sepakat bilaman berpapasan dengan kaum laki2 mereka boleh menutupkan kain di hadapan wajahnya. Sebagaimana riwayat Aisyah:
    Hal ini berdasarkan hadits dari Aisyah رَضِىَ اللَّه عَنْهَا yang tertulis di dalam Musnad Ahmad 6/22894 dan Sunan Abu Dawud Kitab Manasik Bab Wanita Ihram Menutup Wajahnya , berikut ini :

    كَانَ الرُّكْبَانُ يَمُرُّونَ بِنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُحْرِمَاتٌ فَإِذَا حَاذَوْا بِنَا سَدَلَتْ إِحْدَانَا جِلْبَابَهَا مِنْ رَأْسِهَا عَلَى وَجْهِهَا فَإِذَا جَاوَزُونَا كَشَفْنَاهُ
    “Para pengendara biasa melewati kami, di saat kami (para wanita) berihram bersama-sama Rasulullah . Maka jika mereka mendekati kami, di antara kami menurunkan jilbabnya dari kepalanya kepada wajahnya. Jika mereka telah melewati kami, kami membuka wajah.”

    Dari sini para ulama juga menganjurkan menutup wajah mereka bilamana dikhawatirkan fitnah pada saat haji/ihram. Di antaranya:

    Al-Imam Asy-Syafii dalam Kitab Al-Umm Kitab Haji Bab Pakaian yang Dipakai Seorang Perempuan :

    وَتُفَارِقُ الْمَرْأَةُ الرَّجُلَ فَيَكُونُ إحْرَامُهَا فِي وَجْهِهَا وَإِحْرَامُ الرَّجُلِ فِي رَأْسِهِ فَيَكُونُ لِلرَّجُلِ تَغْطِيَةُ وَجْهِهِ كُلِّهِ مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ وَلاَ يَكُونُ ذَلِكَ لِلْمَرْأَةِ وَيَكُونُ لِلْمَرْأَةِ إذَا كَانَتْ بَارِزَةً تُرِيدُ السِّتْرَ مِنْ النَّاسِ أَنْ تُرْخِيَ جِلْبَابَهَا أَوْ بَعْضَ خِمَارِهَا أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ مِنْ ثِيَابِهَا مِنْ فَوْقِ رَأْسِهَا وَتُجَافِيهِ عَنْ وَجْهِهَا حَتَّى تُغَطِّيَ وَجْهَهَا مُتَجَافِيًا كَالسَّتْرِ عَلَى وَجْهِهَا وَلاَ يَكُونُ لَهَا أَنْ تَنْتَقِبَ

    “Perbedaan antara perempuan dengan laki-laki di dalam ihram adalah perempuan pada wajahnya dan laki-laki pada kepalanya. Laki-laki-laki boleh menutup wajahnya setiap saat tanpa ada hal darurat, akan tetapi hal ini terlarang bagi perempuan”.
    “Adapun seorang perempuan (dalam ihram) bila wajahnya dalam keadaan terbuka dan ia ingin menutupinya dari manusia; maka hendaknya ia menurunkan jilbabnya atau sebagian kerudungnya atau kain lainnya dari pakaiannya dari atas kepalanya ke depan wajahnya (tidak menempel) sehingga MENUTUPI WAJAHNYA seperti penutup pada wajah namun tidak seperti niqob (yang menempel pada wajah). ”

    Al-Imam Taqiyuddin Abu Bakr bin Muhammad al-Husaini al-Hisni ad-Dimsyaqi asy-Syafi’i رحمه الله , seorang ulama’ masyhur mazhab Syafi’i berkata pada itab Fiqh Kifayatul Akhyar Kitab Haji Bab Hal yang Haram di dalam Berihram, :

    ويحرم على المحرم عشرة أشياء: لبس المخيط وتغطية الرأس من الرجل والوجه من المرأة . . . هذا كله في الرجل. وأما المرأة فالوجه في حقها كرأس الرجل وتستر جميع رأسها وبدنها بالمخيط ولها أن تستر وجهها بثوب أو خرقة بشرط ألا يمس وجهها سواء كان لحاجة أو لغير حاجة من حر أو برد أو خوف فتنة، ونحو ذلك

    …“Dan diharamkan atas orang yang berihram melakukan 10 perkara, yaitu (1) memakai pakaian yang berjahit, (2) menutup kepala bagi laki-laki dan (3) menutup muka bagi wanita.”
    “… dan itu semua bagi laki-laki, adapun wanita, maka hukum wajahnya sama dengan hukum kepala bagi laki-laki. Wanita boleh menutupi seluruh badannya dan kepalanya dengan pakaian yang berjahit. Dan juga bagi wanita agar menutupi wajahnya dengan kain atau sobekan kain, dengan syarat kain tersebut tidak menyentuh mukanya. Baik menutupi wajahnya itu karena suatu hajat, seperti kepanasan, kedinginan, atau karena takut terjadi fitnah (syahwat) dan lain-lain ataupun juga tanpa sebab hajat apapun.”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: